Minggu, 06 Juni 2010

SINDROM ASPERGER

Adi (5 tahun), tampak sehat dan cerdas masuk ke ruang praktek dokter. Menjawab pertanyaan dengan santun, ”Kabar saya baik, bagaimana dengan kabar Anda?” Ketika dokter bertanya tentang sekolah, tiba-tiba Adi bercerita tentang Anak Gunung Krakatau yang dikabarkan akan meletus, lengkap dengan cerita bagaimana terjadinya proses letusan gunung berapi disertai banjir lahar dan lava serta mengajak sang dokter berdiskusi tentang Gunung Kelud yang memperlihatkan gejala sama.

Topik pembicaraan tidak juga beralih meskipun dokter berusaha mengalihkan pembicaraan dengan pertanyaan ringan seputar teman sekolahnya. Orang tua Adi bercerita bahwa putera mereka mengenal huruf sejak usia 18 bulan dan dapat membaca dengan belajar sendiri sebelum berusia 3 tahun. Sejak bisa membaca Adi lebih suka menghabiskan waktu dengan membaca sains ketimbang bermain bola atau sepeda. Jeniuskah Adi? Pastinya ya, lalu apa yang salah dengan Adi?

Di sekolah ternyata teman-teman Adi tidak suka bermain dengannya karena menganggap Adi aneh. Alih-alih membicarakan film Spongebob dengan teman-temannya, Adi lebih suka bercerita bagaimana pesawat ruang angkasa bisa mendarat di bulan. Adi pun sering diejek karena tutur katanya sangat sopan seperti di buku bahasa dengan intonasi yang datar dengan gaya bahasa seperti orang dewasa. Adi juga kerap balik menirukan pertanyaan yang ditujukan kepadanya. Di mata guru, Adi anak yang sangat cerdas, ”berbeda” dengan anak lain, lebih senang menyendiri dan sibuk dengan buku dan kadang tidak perduli dengan orang lain atau jika diajak bicara. Apa masalah yang terjadi pada Andi? Autis ? anak super jenius?…… ternyata bukan, Adi menunjukkan gejala sindrom Asperger.

Apa itu sindrom Asperger ? apakah termasuk bagian dari autis?

Sindrom Asperger (SA) termasuk gangguan perkembangan yang mempengaruhi kemampuan seorang anak untuk bersosialisasi dan berkomunikasi. Anak laki-laki 3-4 kali lebih banyak terkena dibandingkan anak wanita.

Tanda dan gejala anak SA antara lain :

Problem sosialisasi :

  • Anak SA sebenarnya ingin berteman tetapi sering ditolak atau diejek oleh teman-temannya.
  • Kurang atau tidak mengerti bagaimana perasaan orang lain.
  • Tidak mengerti humor dan norma-norma sosial yang berlaku
  • Menunjukkan perilaku yang tidak sesuai dengan norma sosial yang berlaku.
  • Kurang fleksibel karena lebih suka pada rutinitas sehingga sulit beradaptasi

Problem komunikasi :

  • Dalam percakapan, anak SA akan lebih banyak bicara tentang hal yang diminatinya tanpa memperdulikan apakah lawan bicaranya tertarik atau mengerti apa yang dibicarakan.
  • Tidak memahami komunikasi non verbal seperti ekspresi dan bahasa tubuh orang lain serta kurangnya kontak mata.
  • Terobsesi pada hal-hal yang sangat spesifik seperti statistik, jadwal kereta, cuaca dll.
  • Berbicara dengan suara yang monoton, datar, formal dengan kecepatan yang lambat atau cepat.
  • Kurang mampu berkomunikasi dua arah.
  • Kerap menginterupsi pembicaraan.

Problem motorik dan sensorik:

  • Koordinasi motorik halus yang kurang atau clumsy (canggung)
  • Kurang dapat menjaga keseimbangan dan meniru gerakan yang bersifat cepat, halus dan ritmik serta tulisan tangan yang tidak rapi,
  • Sensitif terdahadap suara, raba, rasa, cahaya, bau, nyeri dan suhu serta tekstur makanan.

Penyebab SA belum banyak diketahui, diduga karena faktor genetik dan kelainan struktural daerah tertentu di otak.

Bagaimana membedakan SA dengan autis terutama jenis high functioning autis (autis dengan kemampuan verbal dan kognitif yang baik) ?

Autis juga bermasalah dalam hal komunikasi dan sosialisasi serta minat yang terbatas. Beberapa ahli memasukkan SA dalam ASD (Autistic Spectrum Disorder). Ahli lain menyatakan bahwa SA berbeda dengan autis maupun ASD. Akan tetapi hampir semua sepakat bahwa perbedaan utama antara SA dengan autis maupun ASD adalah anak SA memperlihatkan perkembangan bahasa/bicara serta kecerdasan yang normal sesuai usianya, bahkan kemampuan ini kadang melebihi usia. Sehingga anak SA tidak datang dengan keluhan terlambat bicara tetapi dengan keluhan masalah di sekolah karena kurangnya sosialisasi atau dianggap aneh.

Apakah anak kita menunjukkan gejala SA ?

Kadang sulit untuk dijawab karena sebagian anak masih bersifat egosentris dalam bersosialisasi serta membicarakan hal-hal yang itu-itu saja seperti mainan atau tokoh kartun favoritnya.Tetapi jika hal-hal tersebut sampai mengganggu sosialisasi dengan teman-temannya , menganggu proses belajar serta anak kita dianggap eksentrik maka sebaiknya berkonsultasi dengan para ahli.

Referensi

  • http://www.emedicinehealth.com
  • A parents guide to Asperger Syndrome & High functioning autism, by Sally Ozanoff PhD, Geraldine Dawson PhD, James Mc Portland, PhD

CEGUKAN PADA ANAK

Benarkah cegukan disebabkan karena bayi/anak kurang minum. Berbahayakah? Bagaimana mencegahnya?

Sekat rongga dada (diafragma) adalah otot yang membatasi rongga dada dengan rongga perut yang selalu bergerak setiap waktu. Bila kita menarik napas maka diafragma akan berkontraksi dan tertarik ke bawah untuk membantu mengisap udara, sebaliknya bila kita menghembuskan napas diafragma terdorong ke rongga dada untuk membantu pengeluaran napas.

Cegukan (hiccups) atau dalam bahasa medisnya disebut singultus adalah kontraksi tiba-tiba yang tak disengaja pada diafragma. Akibat kontraksi tersebut akan timbul hisapan udara secara mendadak masuk ke dalam paru melewati ruang antara pita suara (glottis), sehingga menyebabkan terjadinya suara “hik” yang khas. Kontraksi yang tiba-tiba tersebut terjadi akibat adanya rangsangan pada diafragma seperti makan terlalu cepat, minum air terlalu dingin, makan makanan yang sangat panas atau pedas, tertawa atau batuk terlalu keras atau minum minuman yang beralkohol.

Cegukan biasanya akan hilang dengan sendirinya atau hilang saat si kecil tidur meskipun ada beberapa cara untuk mempercepat menghentikan cegukan. Cegukan yang berlangsung lebih dari satu jam harus diwaspadai dan sebaiknya segera meminta pertolongan dokter untuk memastikan apakah terdapat kelainan yang serius.

Kelainan yang dapat menimbulkan cegukan antara lain

  1. adanya gangguan saraf diafragma,
  2. radang paru, kelainan di otak seperti tumor,
  3. penyakit ginjal,
  4. gangguan keseimbangan elektrolit.

Apa yang dapat dilakukan bila si kecil cegukan?

Bila si kecil mengalami cegukan ada beberapa hal dapat dilakukan untuk menghentikannya;

  1. Berikan minum air hangat
  2. Menarik napas dalam tahan sebentar lalu dihembuskan
  3. Tidur berbaring dengan lutut ditekuk
  4. Makan sesendok gula
  5. Meletakkan kantong kertas di depan mulut dan mencoba bernapas dari kantong kertas itu selama beberapa menit.

Untuk mencegah terjadinya cegukan ada beberapa hal yang dapat dilakukan;

  1. Jangan memberikan makan atau minum terlalu cepat
  2. Berikanlah air putih 1 – 2 sendok teh kepada bayi setelah minum susu.
  3. Jangan mengajak bercanda bayi sesaat setelah minum susu, berikan waktu istirahat sekitar setengah jam setelah dia minum susu.
  4. Hindari tidak ada udara yang terlalu banyak saat si kecil minum susu.
  5. Sendawakan bayi setelah minum susu

Secara umum cegukan pada bayi dan anak merupakan hal yang tidak perlu dikhawatirkan. Meskipun demikian jangan anggap sepele bila cegukan berlangsung terus menerus lebih dari satu jam.



Sumber :

  1. Pediatrics, 2005
  2. American Academy of Family Physicians, 2005

KRITERIA DIAGNOSIS ADHD

ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder)


A. 1 atau 2

1. Enam (atau lebih) gejala inatensi/ gangguan konsentrasi yang menetap 6 bulan atau

lebih dengan derajat berat dan tidak sesuai dengan umur perkembangan.


INATTENSI / GANGGUAN KONSENTRASI

a. Sering gagal memberi perhatian yang cukupterhadap detail, atau membuat

kesalahan karena ceroboh saat mengerjakan pekerjaan sekolah, bekerja atau

aktivitas lain

b. Sering sulit mempertahankan pemusatan perhatian saat bermain atau bekerja

c. Sering seperti tidak mendengarkan bila diajak berbicara

d. Sering tidak enurut instruksi dan gagal mengerjakan pekerjaan sekolah, tugas

di pekerjaan (bukan karena melawan atau bukan karena tidak mengerti)

e. Sering mengalami kesulitan mengorganisir tugas dan aktivitas

f. Sering menghindari, tidak menyukai, atau menolak untuk melakukan tugas

yang memerlukan konsentrasi penuh, misalnya pekerjaan rumah atau pekerjaan

sekolah

g. Sering kehilangan barang-barang yang diperlukan sehari-hari untuk

menyelesaikan tugas dan aktivitas, misalnya mainan, pinsil, buku)

h. Perhatiannya mudah terpecah bila ada rangsang dari luar

i. Pelupa dalam aktivitas sehari-hari


2. Enam atau lebih gejala hiperaktivitas-impulsivitas, yang menetap 6 bulan atau

lebih, dengan derajat berat dan tidak sesuai dengan umur perkembangan


HIPERAKTIVITAS

a. Sering bermain jari atau tidak dapat duduk diam

b. Sering meninggalkan kursi di sekolah atau di situasi lain yang memerlukan

duduk di kursi

c. Sering lari dan memanjat berlebihan di situasi yang tidak tepat. Pada anak

remaja terlihat sebagai rasa gelisah.

d. Sering mengalami kesulitan bermain atau aktivitas lain yang memerlukan

ketenangan

e. Selalu bergerak, seperti didorong motor

f. Sering berbicara terlalu banyak


IMPULSIVE

g. Sering menjawab sebelum pertanyaan selesai ditanyakan

h. Sering sulit menunggu giliran

i. Sering menginterupsi atau mengganggu anak lain, misalnya menyela suatu

percakapan, masuk ke dalam permainan tanpa “antri”

B. Gejala hiperaktif-impulsif mulai terlihat sebelum berumur 7 tahun

C. Gejala terjadi di dua situasi berbeda atau lebih misalnya di sekolah dan di rumah

D. Adanya gangguan bermakna dalam fungsi sosial, akademis, atau pekerjaan

E. Gejala bukan merupakan bagian gangguan perkembangan pervasif (autisme),

schizophrenia, atau gangguan jiwa berat lain, dan bukan disebabkan gangguan

mood, kecemasan atau ansietas, gangguan disosiasi, atau gangguan kepribadian

Tipe:

1. Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder, tipe kombinasi bila didapat

kriteria A1 dan A2 selama 6 bulan terakhir

2. Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder, tipe inatensi bila kriteria A1

dipenuhi tetapi kriteria A2 tidak dipenuhi selama 6 bulan terakhir

3. Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder, tipe hiperaktif-impulsif bila

kriteria A2 dipenuhi tetapi kriteria A1 tidak dipenuhi selama 6 bulan terakhir



Sumber: Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 4th Ed. (DSM-IV).
Copyright 1994. American Psychiatric Association

Kamis, 03 Juni 2010

STRESS PADA ANAK

Stres bisa menyerang siapa saja, tak terkecuali anak-anak. Dalam batas tertentu stres dan
rasa cemas adalah hal yang normal dan sehat bagi anak-anak.

Jika dilihat dari stresornya (situasi yang menegangkan), stres dapat dibedakan menjadi 2 macam :
1. Eustress
merupakan stres yang sehat atau stres yang memberikan perasaan positif.
Seringkali jenis stres ini merupakan hasil dari mencoba hal-hal baru, menjaga persahabatan
dan terlibat dalam rutinitas sehari-hari.
Eustress bahkan bisa mendorong anak-anak maju dan memberi mereka rasa kepuasan,
sehingga Anda tidak perlu merasa khawatir dengan eustress.

2. Distress.
terjadi ketika seorang anak tidak dapat menyesuaikan diri atau menjadi kewalahan
dengan situasi kehidupan atau rasa tanggung jawab. Distress biasanya memiliki implikasi
negatif bagi anak-anak dan perlu disikapi lebih awal. Bahkan anak terkecil pun dapat
terpengaruh oleh stres ini, secara emosional, perilaku maupun fisik.



Beberapa perilaku khas yang mengindikasikan distress pada anak :

1. Agresi yang meningkat
2. Mengisolasi dari keluarga dan teman
3. Menangis yang tidak biasa
4. Mendadak mengompol
5. Perubahan kebiasaan makan dan tidur
6. Sering mengalami tantruming
7. Gugup, gelisah atau tidak tenang
8. Mengalami sakit perut, sakit kepala atau keluhan fisik lainnya
9. Sering bermasalah di sekolah
10. Merasa cemas


Perlu diingat bahwa semua anak mungkin mengalami beberapa perilaku tersebut pada titik-titik yang berbeda dalam masa perkembangan mereka. Biarkan anak mengetahui bahwa setiap orang pernah mengalami stres dan perasaan – perasaan seperti gelisah, marah dan kesepian adalah hal normal.
Jika perilaku tersebut berlangsung lama, hingga menyebabkan kecemasan yang signifikan atau masalah di sekolah, maka Anda perlu berkonsultasi dengan dokter anak, sekolah atau seorang konselor profesional. Evaluasi yang lebih formal mungkin diperlukan.


Petunjuk yang bisa mengurangi distress dalam kehidupan anak :

1. Jangan meremehkan kekuatan tidur dan gizi. Jangan tidur kurang dari 8 jam setiap
malam. Kurangi asupan gula dan kafein. Sebaiknya mengonsumsi makanan rumah.

2. Bicara, bicara dan bicara.
Atur waktu untuk mengecek dan mencari tahu tentang anak Anda secara rutin,
misalnya mengenai lingkungan teman, sekolah dan keluarga. Meskipun jika Anda tidak
setuju dengan pikiran dan perasaan mereka, berusahalah untuk menjadi teman curhat
mereka. Perasaan yang diinternalisasi dan tak terucapkan, adalah sumber utama dari stres.

3. Libatkan anak Anda dalam kegiatan fisik. Bergabung dalam tim olahraga atau bersepeda
dan berjalan merupakan syarat keberhasilan dalam mengelola stres.

4. Persiapkan anak dalam menghadapi situasi yang menegangkan atau yang bisa
membuatnya stres. Misalnya, pindah rumah, perubahan sekolah, janji bertemu
dengan dokter, ujian sekolah, bahkan liburan. Susunlah rencana tentang bagaimana
ia dapat mengatasi situasi yang sedang dihadapinya.

5. Jangan memenuhi jadwal anak-anak Anda dengan kegiatan ekstrakurikuler.
Anak-anak juga perlu waktu untuk bersantai, bermain, menikmati kebebasan dan
bahkan merasakan bosan!

6. Ingat bahwa kita tidak bisa sepenuhnya melindungi anak-anak kita dari stres.
Membantu anak Anda mengembangkan keterampilan yang solid untuk mengatasi
masalah mereka adalah sebuah hadiah yang luar biasa.

MIMISAN PADA ANAK

DALAM masa pertumbuhan, anak sering kali mengalami mimisan (epistaksis). Selain disebabkan kelainan pembuluh darah, perubahan cuaca juga menjadi pemicu. Mimisan adalah pendarahan dari hidung. Jika tidak ada penyakit lain, mimisan biasanya hanya merupakan kelainan pada pembuluh darah di hidung.

Secara umum, mimisan terjadi akibat pembuluh darah yang pecah di daerah hidung bagian tengah, namanya pleksus kieselbach. Pembuluh darah ini merupakan anyaman jaringan pembuluh darah yang sangat halus dan tipis.

Pada anak-anak, pembuluh darah ini mudah berdarah terutama kalau ada infeksi di daerah hidung. Akibat infeksi, pembuluh darah yang tipis tersebut akan melebar dan kalau tersenggol sedikit saja akan mudah pecah.

Penyebab

- Udara panas dan kering
Udara panas dan kering membuat selaput lendir dalam hidung menjadi kering
dan pecah sehingga darah keluar.
- Pilek
Saat pilek kadang ia mencoba membuang lendir dalam hidung terlalu keras.
Hal ini tentu saja bisa mengakibatkan mimisan.
- Sering mengorek hidung
Kebiasaan mengorek-ngorek hidung juga menjadi penyebab mimisan.
Jangan biarkan si kecil mengorek-ngorek hidungnya terlalu dalam.
- Obat-obatan
Kandungan asetosal dan ibuprofen dalam obat-obatan tertentu dapat menimbulkan
mimisan pada anak. kandungan ini menyebabkan darah lama membeku
sehingga anak mudah mimisan.

Pertolongan pertama yang dapat Bunda lakukan di rumah :

- Dudukkan si kecil dan suruhlah si kecil agak membungkuk ke depan.
Setelah itu bernapaslah melalui mulut.
- Tekan cuping hidung (di atas lubang hidung) selama 5 menit,
bila masih berdarah lakukan lagi selama 10 menit.
- Kompres hidung dengan air dingin supaya aliran darah ke hidung lebih lambat.
- Kalau masih berdarah segeralah bawa ke ruang gawat darurat.


Berikut kiat-kiat mencegah mimisan :

- Perhatikan apakah si kecil sering mengorek hidung. Bila ya peringatkan untuk
berhenti melakukannya. Kalau masih melakukan peringatkan lagi sedikit lebih keras.
- Jauhi anak dari asap rokok atau bahan kimia lainnya. Beberapa anak alergi terhadap
asap rokok dan zat kimia tertentu.
- Bila cuaca dirasa terlalu kering gunakan pelembab ruangan.
Pastikan keadaan rumah selalu dalam ekadaan bersih.
- Teteskan larutan air garam atau oleskan cream pelembab ke dalam hidung untuk
membasahi hidung sehingga selaput lendir tidak kering.
- Sebisa mungkin hindari anak dari benturan di hidungnya.



sumber :
1. conectique

Selasa, 25 Mei 2010

SAKIT PERUT PADA ANAK

Pendahuluan

Batasan sakit perut berulang adalah serangan sakit perut yang timbul sekurang-kurangnya tiga kali dalam jangka waktu tiga bulan, dan mengakibatkan aktifitas terganggu.

Sakit perut berulang biasanya terjadi pada anak usia lima hingga 14 tahun, sementara frekuensi tertinggi pada usia 5-10 tahun. Apley menemukan bahwa nyeri perut terjadi pada 10-12% anak laki-laki usia 5-10 tahun dan menurun setelah usia itu. Anak perempuan cenderung lebih sering menderita sakit ini dibandingkan anak laki-laki (Perempuan:Laki-laki=5:3). Penting diketahui, sakit perut ini jarang terjadi pada anak di bawah usia 5 tahun dan di atas 15 tahun.

Kelainan organik sebagai penyebab sakit perut berulang terdapat pada 5-15,6% kasus sedangkan 80% kasus disebabkan kelainan fungsional saluran cerna. Dengan bertambah majunya ilmu pengetahuan dan alat-alat kedokteran terutama endoskopi dan diketahuinya penyakit gastroduodenum yang disebabkan Helicobacter Pylori, maka diperkirakan makin banyak kelainan organik yang dapat ditemukan. Pada anak dibawah 4 tahun sebagian besar penyebabnya adalah organik, sedangkan pada anak besar kelainan fungsional saluran cerna merupakan penyebab terbanyak.

Pendekatan diagnosis nyeri perut berulang dimulai dari anamnesis yang diteliti dan lengkap, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang dasar. Hanya kasus yang diduga disebabkan kelainan organik yang memerlukan pemeriksaan penunjang lanjutan.

Beberapa Konsep Sakit Perut Berulang

Konsep yang klasik adalah membagi sakit perut berulang ke dalam 2 golongan: organik dan psikogenik (fungsional dan psikosomatik). Biasanya harus dicari dulu penyebab organik, bila tidak ditemukan lalu dipikirkan kemungkinan penyebab psikogenik . Cara pendekatan seperti ini tentu akan banyak memakan waktu dan biaya.

Barr mengajukan konsep yang agak berbeda. Sakit perut berulang digolongkan atas 3 kelompok, yaitu: organik, disfungsional, dan psikogenik. Nyeri organik disebabkan oleh suatu penyakit, misalnya infeksi saluran kemih . Nyeri disfungsional disebabkan oleh berbagai variasi fisiologi normal dan dibagi dalam dua kategori, yaitu sindrom nyeri spesifik (yang mekanisme penyebab nyerinya diketahui, misalnya defisiensi laktase dan konstipasi) dan sindrom nyeri nonspesifik (mekanisme penyebab nyeri tidak jelas atau tidak diketahui). Nyeri psikogenik disebabkan oleh tekanan emosional atau psikososial tanpa adanya kelainan organik atau disfungsi.

Konsep ketiga diajukan oleh Levine an rappaport yang menekankan adanya penyebab multifaktor. Sakit perut berulang merupakan resultante dari empat faktor, yaitu: (1) Predisposisi somatik, disfungsi, atau penyakit; (2) Kebiasaan dan cara hidup; (3) Watak dan pola respons; dan (4) Lingkungan dan peristiwa pencetus.

Faktor-faktor tersebut berperan meningkatkan atau meredakan rasa sakit. Dengan demikian dapat diterangkan mengapa beberapa anak menderita konstipasi tanpa sakit perut berulang. Demikian pula halnya dengan kondisi psikososial yang buruk akan menimbulkan sakit perut berulang pada anak tertentu, tetapi tidak pada anak lain.

Gambar 1. Konsep yang menggambarkan peranan penyebab multifaktor pada sakit perut berulang.

undefined

Etiologi

Kelainan organik sebagai diagnosis banding penyebab sakit perut berulang telah banyak dilaporkan, tetapi hanya ditemukan pada 5-15,6% kasus. Pada garis besarnya kelainan organik sebagai penyebab sakit perut berulang dapat dibagi menurut penyebab intra-abdominal dan extra-abdominal.

Penyebab intra-abdominal dapat diklasifikasikan lagi menurut penyebab dari dalam saluran cerna, ginjal, dan lain-lain (Tabel 1). Pada tabel 2 dapat pula dilihat kelainan organik sebagai penyebab sakit perut.
Penyebab sakit perut berulang yang terbesar adalah faktor psikofisiologi.

Tabel 1. Beberapa penyebab organik sakit perut berulang

EXTRA - ABDOMINALINTRA - ABDOMINAL
GASTROINTESTI
NAL
GINJALLAIN-LAIN
Keracunan Timbal
Porfiria
Epilepsi
Diabetes
Asma
Demam Rematik
"Sickle-cell anemia"
Hiperparathyroidism
Hipertrigliserid
Peritonitis
Tumor/Cysta
Medulla spinalis
Perinkotritis
Malrotasi
Duplikasi
Stenosis
Gastritis
Hiatus hernia
Hernia inguinalis
Volvulus
Intususepsi
Colitis ulseratif
Konstipasi kronik
Intoleransi laktosa
Askariasis
Ulkus peptikum
Penyakit Crohn
Apendisitis kronik
Hiperplasia limfoid-
noduler
Limfoma
Pielonefritis
Hidronefrosis
Batu ginjal
Obstruksi uretero
pelvik
Hepatomegali
Splenomegali
Kolesistitis
Kolelitiasis
Pankreatitis kronik
Kista ovarium
Endometriosis


Tabel 2. Penyebab organik sakit perut berulang

SALURAN
UROGENITAL
GASTRO-
INTESTINAL
HEMATOLOGILAIN-LAIN
Pielonefritis
Hidronefrosis
Batu ginjal
Infeksi di daerah pelvis
Dismenore
Cysta ovarium
Endometriosis
Kehamilan ektopik
Konstipasi
Coeliac
Intoleransi laktosa
Refluks gastroesofagal
H. pylori
Pankreatitis kronik
IBD
Malrotasi
Divertikulum Meckel
Kolelitiasis
Hepatitis
Ulkus peptikum
Leukemia
Limfoma
Thalasemia
Keracunan timbal
Porfiria
Diabetes melitus
Purpura Henoch-
Schonlein
Epilepsi perut
Migrain
Hiperlipidemia
Edema angioneurotik


Patofisiologi

Sakit perut akut atau berulang mempunyai 5 sumber, yaitu:
  1. Visera perut
  2. Organ lain di luar perut
  3. Lesi pada medula spinals
  4. Gangguan metabolik
  5. Psikosomatik
Reseptor rasa sakit di dalam traktus digestivus terletak pada saraf yang tidak bermielin yang berasal dari sistim saraf otonom pada mukosa usus. Jaras saraf ini disebut sebagai serabut saraf C yang dapat meneruskan rasa sakit lebih menyebar dan lebih lama dari rasa sakit yang dihantarkan dari kulit oleh serabut saraf A.

Reseptor nyeri pada perut terbatas di submukosa, lapisan muskularis dan serosa dari organ di abdomen. Serabut C ini akan bersamaan dengan saraf simpatis menuju ke ganglia pre dan paravertebra dan memasuki akar dorsa ganglia. Impuls aferen akan melewati medula spinalis pada traktus spinotalamikus lateralis menuju ke talamus, kemudian ke konteks serebri.

Impuls aferen dari visera biasanya dimulai oleh regangan atau akibat penurunan habat ambang nyeri pada jaringan yang meradang. Nyeri ini khas bersifat tumpul, pegal, dan berbatas tak jelas serta sulit dilokalisasi. Impuls nyeri dan visera abdomen atas (lambung, duodenum, pankreas, hati, dan sistem empedu) mencapai medula spinalis pada segmen thorakalis 6,7,8 serta dirasakan didaerah epigastrium.

Impuls nyeri yang timbul dari segmen usus yang meluas dari ligamentum Treitz sampai fleksura hepatika memasuki segmen Th 9 dan 10, dirasakan di sekitar umbilikus. Dari kolon distalis, ureter, kandung kemih, dan traktus genitalia perempuan, impuls nyeri mencapai segmen Th 11 dan 12 serta segmen lumbalis pertama. Nyeri dirasakan pada daerah supra publik dan kadang-kadang menjalar ke labium atau skrotum. Jika proses penyakit meluas ke peritorium maka impuls nyeri dihantarkan oleh serabut aferen stomatis ke radiks spinals segmentalis.

Penyebab metabolik seperti pada keracunan timah dan porfirin belum jelas patofisiologi dan patogenesisnya.

Patofisiologi sakit perut berulang yang fungsional (tidak berhubungan dengan kelainan organik) masih sulit dimengerti. Diperkirakan ada hubungan antara sakit perut berulang fungsional dengan penurunan ambang rangsang nyeri. Berbagai faktor psikologik dan fisiologik dapat berperan sebagai mediator sebagai mediator atau moderator dari sakit perut berulang fungsional. (Tabel 3).

Tabel 3. Mediator dan moderator dari sakit perut berulang fungsional

PSIKOLOGIKFISIOLOGIK
Faktor stress

Depresi

Ikatan Keluarga

"Operant conditioning"

Somatisasi

Intoleransi

Dismotilitas usus

Konsitipasi

Ketidak stabilan otonom



Juga diketahui ada hubungan yang kuat antara sakit perut berulang fungsional dengan tipe kepribadian tertentu, yaitu sering cemas/gelisah, dan selalu ingin sempurna. Pada anggota keluarga lainnya juga sering ditemukan kelainan psikosomatik seperti migrain, kolon iritabel.

Hubungan antara sistim susunan saraf pusat dan saluran cerna yang sangat kompleks mungkin dapat membantu menjelaskan patofosiologi sakit perut berulang fungsional (gambar 2).

Gambar 2. Schematic diagram illustrating the processing of sensory information



Patogenesis

Mekanisme timbulnya sakit perut yang organik, ialah:
  1. Gangguan vaskuler. Emboli atau trombosis, ruptur, okulasi akibat torsi atau penekanan. Kejadian ini misalnya, terjadi pada putaran kista ovarium dan jepitan usus pada inavaginasi.


  2. Peradangan. Peradangan organ di dalam organ peritonium menimbulkan rasa sakit bila proses peradangan telah mengenal peritoneum parietalis. Mekanismenya sama seperti peradangan pada umumnya yang disalurkan melalui persyarafan somatik.


  3. Gangguan pasase. Gangguan pasase atau obtruksi organ yang berbentuk pembuluh, baik yang terdapat di dalam rongga peritoneal atau pun retroperitoneal. Bila pasase dalam saluran-saluran tersebut terganggu akan timbul rasa sakit akibat tekanan intra lumen yang meninggi di bagian proksimal sumbatan. Sakit dirasakan hilang timbul atau terus menerus dengan punyak nyeri yang hebat (kolik).

  4. Penarikan, peregangan dan pembentangan peritoneum viseralis. Dalam prakteknya, keempat mekanisme timbulnya sakit perut jarang ditemukan sendiri-sendiri, tapi umumnya merupakan proses campuran.
Manifestasi Klinis

Tampak pada usia 5 - 14 tahun, dan lebih sering pada usia 5 -10 tahun. Pada anak berusia lebih dari 9 tahun sering ditemukan pada anak perempuan dari pada anak laki-laki dengan perbandingan 1.5 : 1. Sakit perut berulang variasinya cukup luas baik dalam hal frekuensi, waktu, intensitas, lokasi dan gejala yang mengikuti. Mual, keringat, dingin, muntah, pusing, pucat dan palpitasi sering menyertai sakit perut berulang. Gejala klinis sakit perut berulang yang klasik dapat dilihat pada tabel 4. Pada sakit perut berulang dengan gambaran klasik ini, etiologinya bukan kelainan organik.

Diketahui tiga tipe sakit perut berulang yaitu : kolik periumbilikus (paling sering) ‘peptic symptoms’s (hampir sama dengan dispepsia non ulser pada dewasa) dan nyeri perut bawah dengan gangguan buang air besar (ekivalen dengan sindrom kolon iritabel). Gejala klinis ini dapat menetap sampai dewasa pada 30 - 50% kasus. Sakit perut berulang merupakan salah satu manifestasi dini dari iiritable bowel syndrome (IBS).

Tabel 4. Gejala klinis sakit perut berulang klasik

Paroksismal

Daerah perlumbilikus atau suprapubis

Nyeri berlangsung kurang satu jam

Nyeri tidak menjalar, kram atau tajam, tak membangunkan anak malam hari

Nyeri tidak berhubungan dengan makanan, aktifitas, kebiasaan buang air besar

Mengganggu aktivitas

Di antara dua episode terdapat masa bebas gejala

Pemeriksaan fisik (N), kecuali kadang-kadang sakit perut di kiri bawah

Nilai laboratorium (N)



Pendekatan Diagnosis

Untuk membuat diagnosis diperlukan anamnesis yang teliti, pemeriksaan fisik lengkap, pemeriksaan laboratorium penunjang.

Anamnesis

  1. Usia. Sakit perut berulang biasanya terjadi pada usia 5 - 14 tahun.


  2. Rasa sakit.
    1. Lokalisasi. Sakit yang disebabkan gangguan saluran pencernaan bagian atas biasanya dirasakan di daerah epigastrium. Gabgguab di ileum distal dan appendiks dirasakan di daerah perut kanan bawah. Rasa sakit yang disebabkan oleh infeksi usus ataupun gangguan psikis lokalisasinya sukar ditentukan.
    2. Sifat dan faktor yang menambah / mengurangi rasa sakit. Sakit yang berasal dari spasme otot polos usus, traktus urinarius, traktus biliaris, biasanya berupa kolik yang sukar ditentukan lokalisasinya dengan tepat dan tidak dipengaruhi oleh adanya batuk atau penekanan abdomen. Sakit yang berasal dari iritasi peritoneum akan terasa menetap di tempat iritasi dan menghebat bila penderita batuk atau ditekan perutnya.
    3. Waktu timbul : berhubungan dengan makan atau tidak.
    4. Frekuensi
    5. Gejala yang mengiringi.
  3. Pola defekasi
  4. Pola kencing
  5. Siklus Haid
  6. Akibat sakit perut pada anak
    1. Terdapatkah kemunduran kesehatan pada anak tersebut?
    2. Bagaimana nafsu makan anak?
  7. Gejala / gangguan traktus respiratorius
  8. Gangguan muskuloskeletal
  9. Aspek psikososial
  10. Trauma. Trauma tumpul dapat menyebabkan hematoma subserosal ataupun pankreatitis
  11. Penyakit yang pernah diderita dalam keluarga. Adakah di antara keluarga yang menderita cystic fibrosis, pankreatisis, ulkus peptikum, kolon iritebl. Adakah faktor stress dalam keluarga.
Pada anamnesis yang teliti kita sudah dapat mengetahui apakah penyebab sakit perut berulang itu kelainan organik atau bukan (Tabel 5)

Tabel 5. Tanda peringatan sakit perut berulang yang disebabkan kelainan organik

  1. Nyeri terlokalisir, jauh dari garis tengah
  2. Nyeri menjalar (punggung, bahu, ektremitas bawah)
  3. Membangunkan anak pada malam hari
  4. Timbul tiba-tiba
  5. Muntah
  6. Gangguan motilitas (diare, obstripusi, inkontinensia)
  7. Pendarahan saluran cerna
  8. Dysuria
  9. Gangguan tumbuh kembang
  10. Gejala sistemik : panas, arthalgia, ruam kulit
  11. Riwayat keluarga : ulkus peptikum, H pylori, intoleransi laktosa, IBD
  12. Kesadaran sesudah episode
  13. Usia kurang dari 4 tahun atau lebih 15 tahun


Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik harus lengkap dan dilakukan di tempat yang tenang. Umumnya tidak didapatkan kelainan pada pemeriksaan fisik. Perlu dilakukan colok dubur. Dari hasil pemeriksaan fisik dapat mengetahui apakah penyebab sakit perut berulang tersebut kelainan organik atau bukan. Pada tabel 6 terlihat tanda peringatan pada pemeriksaan fisik sakit perut berulang yang disebabkan kelainan organik.

Tabel 6. Tanda peringatan sakit berulang pada pemeriksaan fisik

  1. Penurunan berat badan
  2. Organomegali
  3. Fistula perianal
  4. Fisura ani
  5. Ulkus perirektum
  6. Pembengkakan sendi


Pemeriksaan Laboratorium dan Penunjang

Pemeriksaan laboratorium yang sering dilakukan:
  • Darah perifer lengkap
  • LED
  • Urinalistis
  • Biakan urine pada anak wanita
  • Test benzidin
  • Analisis tinja termasuk pemeriksaan parasit dan telur cacing
Pemeriksaan penunjang lainnya disesuaikan dengan kelainan yang didapat pada anamnesis dan pemeriksaan fisik, seperti uji hidrogen nafas, USG abdomen, lipase dan amilase darah, test fungsi hati.

Terapi

Pengobatan diberikan sesuai etiologi. Pada sakit berulang fungsional pengobatan ditujukan kepada penderita dan keluarga bukan hanya mengobati gejala. Tujuan pengobatan ialah memberikan rasa aman serta edukasi kepada penderita dan keluarga sehingga kehidupan keluarga menjadi normal kembali dan dapat mengatasi rasa sakit sehingga efeknya terhadap keaktifan sehari-hari dapat seminimal mungkin (Tabel 7)

Kadang-kadang diperlukan pula konsultasi ke psikolog dan atau psikiater anak. pemeriksaan obat seperti antispasmodik, anticholinergik, antikonvulsan dan anti-depresan tidak bermanfaat.

Tabel 7. Ringkasan pengobatan sakit perut berulang fungsional

  1. Menyakinkan bahwa penyakitnya ringan
  2. Menerangkan masalah berdasarkan pada temuan positif maupun negatif
  3. Menemukan stress dan kecemasan yang mencetuskan rasa sakit
  4. Mengidentifikasi pengaruh keluarga / sosial yang mencetuskan sakit
  5. Menghindari gejala sakit yang berkepanjangan dan mengembalikan anak dalam kehidupan normal
  6. Tatalaksana penyebab yang didapat : kurangi laktosa, diet tinggi serat, dll
  7. Follow-up teratur untuk mengetahui perubahan gejala, meningkatkan rasa percaya diri dan mendorong keluarga serta anak untuk mengatasi masalahnya
  8. Hasil pengobatan jangan dipakai untuk membuat diagnosis


Sumber:
1. Aswitha D Boediarso Makalah ini disampaikan pada Simposium Nasional Badan Koordinasi
Gastroenterologi Anak Indonesia, Sabtu (20/5/2000), Gedung Sultan Suriansyah, Banjarmasin.